Atap ramah lingkungan

Atap yang ramah lingkungan mungkin belum kepikiran bagi kita untuk menerapkannya. Kebanyakan dari kita masih berpikir yang paing utama  adalah bagaimana membuat atap yang tahan lama, tidak mudah bocor dan harganya yang murah. Sebagai contoh adalah atap yang menggunakan atap aspal herpes zoster yang memang agak jarang digunakan di Indonesia. Bahan ini cukup berbahaya  karena bahan ini menyerap panas dan sulit untuk di daur ulang. Bahan ini sangat populer karena harganya yang relatif murah bila dibandingkan dengan harga bahan atap lainnya.
Jika bahan atap anda telah tua dan harus diganti dengan yang baru mungkin tidak kepikiran ke kita untuk menggantinya dengan yang baru dengan bahan yang ramah lingkungan.



Pada saat ini mungkin masih jarang yang menggunakan atap yang mengandung lapaisan tanah sehingga memungkinkan untuk menanam tumbuhan diatasnya. untuk di negara-negara maju yang kesadaran akan atap ramah lingkungan sudah menerapkan kondisi tersebut. Bahan atap yang dibiarkan berbaur dengan lingkungannya serta dapat di desain dengan indah. Kalau di Indonesia mungkin terasa aneh ada tanaman di atap rumah. Tentu saja atap seperti ini memerlukan perawatan khusus dan perencanaannya yang khusus pula.

Atap yang tebuat dari keramik ataupun logam adalah paling sering digunakan untuk atap rumah. Apalagi harga atap baja ringan yang semakin populer karena harganya yang semakin terjangkau sehingga jenis atap ini paling populer digunakan saat ini. Kerangka atap yang tebuat dari logam jika sudah diganti paling tidak bahan ini masih bisa di daur ulang. Begitu juga jenis atapnya yang terbuat dari logam sekalipun. Bahan yang terbuat dari logam tidak akan membusuk, tidak mudah retak atau pecah seperti kerangka atap baja ringan yang tidak begitu banyak lagi membutuhkan dukungan dan dengan aman diletakkan bahan atap seperti harga atap baja ringan plus genteng yang sudah terkenal dan banyak penggunaannya itu.

Bagaimanapun juga atap dengan bahan keramik yang sangat umum digunakan adalah jenis atap yang cukup tahan lama. Keramik tentu saja tidak beracun selain itu keramik yang tidak berglazur adalah paling diminati. Salah satu kelemahannya bahan keramik tentu saja berat dan harganya pun cukup relatif mahal.

Saat ini telah banyak digunakan bahan atap yang dapat menghasilkan listrik. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari atap keseluruhan untuk menghasilkan listrik. Bahan dengan 'solar cell' ini telah banyak dijual dan biasanya untuk tipe rumah menengah keatas, dimana listrik yang dihasilkan digunakan untuk pemanas air. tentu hal ini sangat baik sekali atap digunakan sebagai penghasil energi listrik dan tentu saja menghemat pemakaian listrik dirumah, apalagi kalau memanaskan air dengan listrik cukup banyak energi yang digunakan.



Untuk saat tulisan ini ditulis, bahwa Presiden Jokowi yang berencana membangun rumah sejuta unit atapnya di desain untuk menghasilkan energi listrik, tetapi listrik yang dihasilkan bukan untuk dipakai tetapi dijual ke PLN!
Suatu ide yang brilliant hanya saja bagaimana kelanjutan dari proyek ini dan bagaimana pelaksanaannya, serta berapa jumlah daya yang dihasilkan tiap rumah dan juga penyalurannya ke PLN. Yang jelas bahwa atap yang bukan hanya di daur ulang saja tetapi juga menghasilkan energi. Ini lompatan yang pemikiran cukup spektakuler jika hal ini benar-benar bisa terwujud.

Tidak ada salahnya juga anda berpikir maju ke depan dengan menggunakan atap yang dapat mengubah  sinar matahari menjadi energi listrik. Pemerintah seharusnya mendukung penuh serta perusahaan-perusahaan yang memproduksi atap yang menghasilkan listrik dari energi sinar matahari. Hal ini sangat cocok untuk iklim yang ada di Indonesia karena energi sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun.

No comments:

Post a Comment